comments 3

Priangan Si Jelita

Ada banyak cara yang digunakan oleh puisi untuk merayu keterlibatan pembaca agar masuk ke dalam kehidupan. Salah satunya dengan menampilkan gambaran-gambaran kehidupan penulis, kehidupan yang mungkin tidak dikenal oleh pembacanya. Menampilkan dan menghadirkan dalam keberadaannya yang paling kongkret, bukan dalam bentuk abstraksi-abstraksi yang membuat kehidupan itu menjadi esensial dan kehilangan keberadaannya dari kehidupan-kehidupan lain yang ada sebelumnya. Sesuatu yang baru, yang asing yang memang selalu menantang untuk dimasuki maupun dialami seperti halnya kisah perpisahan. Pergi dari sesuatu yang dikasihi, pergi dari tanah kelahiran untuk merenungkan kembali sebuah hubungan dengan tempat kita dilahirkan. Perpisahan akan menyadarkan pada kehadiran sesuatu yang selama ini dilupakan, sering kali baru disadari saat segala sesuatu itu sudah tidak ada di sekitar kita.

Ramadhan Karta Hadimadja dilahirkan hingga menginjak usia dewasa di bumi Priangan lebih tepatnya di kota Bandung. Priangan adalah wilayah yang tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan sunda dengan luas mencakup Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Wilayah ini menawarkan keindahan alam hijau yang menghampar, lembah-lembah yang subur pada setiap lekuknya serta kecantikan gadis-gadis priangan nun jelita. Setiap manusia niscaya akan dibuat kagum dan cinta pada Priangan, kekaguman dan kecintaan yang baru dirasakan oleh Ramadhan KH saat dirinya pergi ke Eropa selama beberapa tahun. Jauh dari tanah kelahiran inilah yang akan membuat dirinya berserah pada kerinduan dan kelak akan ditulisnya dalam antologi puisi diberi judul Priangan si Jelita.

Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohon pina,
tembang menggema di dua kaki,
Barangrang – Tangkubanprahu

Jamrut di pucuk-pucuk
Jamrut di hati gadis menurun.

Priangan si Jelita memuat 21 puisi yang dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing diberi judul Tanah Kelahiran, Dendang Sayang, Pembakaran. Puisi-puisi ini lahir dari kerinduan Ramadhan KH akan alam priangan yang aman dan damai namun berbuntut kegelisahan, kegelisahan yang datang dari rasa cinta pada Priangan. Dirinya rela hadir ditengah gejolak yang sedang terjadi dengan pengorbanan yang tidak mudah dalam mengambil peran. Menurutnya inilah hubungan manusia dengan tempat dirinya hadir di muka bumi pertama kali. Mochtar Lubis sendiri dalam catatan kebudayaan majalah Horison pernah berujar bahwa sastra yang seharusnya adalah tentang manusia dan kehidupan manusia, perasaan dan pikirannya, kekecewaan dan harapannya, kemarahan dan kesedihannya, kebahagiaan dan kegetiran hidupnya bahkan keberanian maupun kepengecutannya. Ini berarti bahwa sastra juga harus menghadapi masyarakat, agama nasionalisme dan pula banyak lagi hal-hal lain. Dinilah saya melihat rasa tanggung jawab Ramadhan KH seperti yang dijelaskan Mochtar Lubis sebelumnya, penderitaan dan kesengsaraan pahit yang dialami tanah kelahirannya, menggugahkan rasa tanggung jawab sebagai sastrawan maupun makhluk Tuhan.

Dalam situasi seperti itu Ramadhan KH tidak bisa menerima kenyataan bahwa pemberontakan Darul Islam pimpinan SM Kartosoewirjo terjadi di sebagian besar wilayah Priangan. Teror yang mencekam telah membuat jauh dari rasa aman dan damai, diberlakukannya jam malam seakan menambah derita dari situasi politik sudah yang tidak menentu. Wajah-wajah penuh ketakutan, sunyi, kesendirian dalam balutan alam bumi priangan tahun 50an adalah potret yang ingin ditampilkan Ramadhan KH dalam bait puisi. Salah satunya “Dendang Sayang” pada sajak 1 diceritakannya bahwa kebebasan itu hanyalah milik unggas, saat manusia dirundung ketakutan mereka tidak bisa lepas dari bentuk kesepian yang merupakan waktu dalam menanti ajal.

Di Cikajang hanya burung,
bebas lepas terbang lari.
di bumi bayi turunnya,
besar di bawah mengungsi;
sepi di bumi priangan,
sepi menghadapi mati

Selain itu kita juga akan diajak untuk merasakan kehidupan yang sejuk, asri yang sekaligus bersiap untuk merenggang nyawa. Menegaskan bahwa Ramadhan KH bukan hanya memberikan citra yang manis dan mesra namun juga kepahitan serta kegetiran ikut menunggu di dalam bait puisinya. Seperti pada sajak 4 dari “Tanah Kelahiran”;

Berbelit membiru jalan
ke Gede dan Parangrango,
juga penyair dinanti tikaman orang

Saya melihat antologi puisi ini mengibaratkan gadis priangan yang sekujur tubuhnya dibalut dengan kawat berduri, masih tampak wajah ayu dengan senyum getir yang menunggu kita untuk membantunya terbebas dengan resiko masuk dalam pusaran ketakutan si gadis. Tentunya rasa sakit akan hadir diantara si gadis dan kita yang ingin membebaskannya sembari menikmati kecantikannya. Rasa sakit inilah yang mampu dihadirkan secara apik dari penulis, bagaimana sebuah konflik yang mengorbankan nyawa orang tak berdosa hanya karena perkara kekuasaan yang mengatas namakan Negara Islam Indonesia. Antologi puisi ini akhirnya diterbitkan pada tahun 1956 saat situasi teror itu masih berlangsung namun berakhir pada tahun 1962 saat SM Kartosoewirdjo menyerahkan diri kepada militer dan dihukum mati pada tahun itu juga. Nasib Priangan Si Jelita sendiri menjadi sebuah masterpice dari Ramadhan KH untuk masyarakat sastra Indonesia karena setelahnya tidak ada antologi puisi yang diterbitkan lagi. Dirinya kemudian lebih banyak menulis novel maupun biografi hingga masyarakat mulai mengenalnya saat menulis biografi orang kuat di Indonesia yang disegani di Asia Tenggara, Presiden Soeharto. Sosok presiden yang sarat dengan kontroversi terkait dengan pencekalan hingga pembredelan karya sastra penting yang dimiliki Indonesia.

3 Comments

  1. Membaca jelentrehan panjang dari sebuah buku puisi, saya terkesan dengan pemahaman Mas Polenk akan bahasa puisi. Imajinasinya kereennn, aku malah gak bisa memahami tulisan puisi. Jangankan paham, membaca saja aku sulit hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *