comment 0

Kali Mati

Sastra tidak memiliki batasan atau tata bahasa yang baku untuk dimengerti, termasuk di dalamnya hal-hal mustahil hingga tidak mungkin terjadi dibuat dengan mudahnya dalam cipta karya. Permainan imajinasi yang penjelajahannya tidak dapat terikat apapun hingga membuka peluang baginya untuk menerobos ruang dan waktu, berbagai hal yang bersifat mungkin dapat dituangkannya bercampur tidak beraturan atau serempak secara tumpang tindih. Begitulah sastra yang memang tidak memiliki rumus paten, selalu saja ada yang khas dan unik bahkan nyeleneh. Dengan begitu berhasil menciptakan kekhasan individual, meskipun ciri dan sifat-sifatnya mungkin berlaku universal terkait dengan konteks yang meruang dan mewaktu.

Saya menahbiskan Joni Ariadinata adalah salah satunya, menjadi sumber dari keserbamungkinan atau kemustahilan itu di antologi cerpen “Kali Mati” yang memuat 15 cerpen. Diterbitkan pada tahun 1999 yang menawarkan kemungkinan baru segi eksplorasi bahasa, penjelajahan tema dan keberanian bereksprimentasi. Sejak tamat SMA dirinya sudah mengadu nasib ke kota pergi dari tempat kelahirannya Majalengka, bekerja secara serabutan mulai dari kuli bangunan hingga pengamen jalanan dilakoninya sebelum jadi penulis. Mungkin inilah kehidupan pinggiran yang menjadi inspirasi antologi Kali Mati kelak, lengkap dengan dialog-dialog yang menabrak batasan bahasa dan sastra yang diajarkan oleh guru-guru saat di sekolah.

Era kepenulisannya sendiri berawal dari perkenalan dengan seorang kawan penulis yang mendorongnya untuk belajar secara otodidak. Perjuangan mungkin tidak selalu berbuah manis pada akhir, namun pengorbanannya mengirim hampir empat ratusan karya tulisnya ke berbagai media akhirnya dimuat pertama kali di harian Surabaya Post pada tahun 1993. Setahun berikutnya dirinya meraih penghargaan cerpenis terbaik pilihan kompas dan mulai saat itulah namanya mulai dikenal dalam sastra Indonesia.

Sebagai orang yang belajar menulis secara otodidak Joni Ariadinata dikenal sebagai penulis yang bereksprimental untuk mencari bentuk kepenulisannya sendiri. Menurutnya bahasa sebagai sarana ekspresi ternyata tidak mampu mengungkapkan keliaran imajinasinya dalam “Kali Mati”. Tata bahasa semrawut, kosa kata yang tidak baku mengajak pembacanya ikut diguncang kesana kemari ibarat sauh yang menerjang ombak. Dengan kepiawaiannya seperti itu mengingatkan pada pencarian hakikat ketuhanan Sutardji Calzoum Bachri di O Amuk Kapak, menimbulkan gelak sekaligus keheranan hingga harus mengernyitkan dahi untuk memaknainya. Beberapa kritikus yang menganggap puisi-puisi Sutardji ini hanyalah kumpulan kata-kata tak bermakna yang dirasa tidak biasa dan keluar dari kelaziman penulisan puisi Indonesia. Membawa kita ke masa penolakan Sutan Takdir Alisjahbana atas puisi Chairil Anwar yang tidak lama kemudian timbul pemberontakan kaum muda atau bisa dikatakan revolusi sastra Indonesia.

Ketidaklaziman yang menjadikan Sutardji memiliki orisinalitas, kekhasan yang juga saya temukan pada diri Joni Ardianata pada antologi cerpen Kali Mati. Antologi cerpen yang mungkin secara kurang ajar dalam memperlakukan bahasa. Gaya bahasa yang selama ini kita kenal dalam buku-buku pelajaran ikut dibuat kocar kacir dan ngawur bahkan aneh. Dengan berani dirinya mereduksi bahasa, menampakkan citra puisi dalam narasi-narasinya. Entah apakah ini yang dimaksud penulis kelahiran Majalengka untuk membawa cerita pendek Indonesia ke tingkatan baru dengan lebih memperlihatkan karakteristiknya. Seolah menunjukkan juga bahwa inilah Joni Ariadinata dan ini antologi cerpen pertamanya yang diterbitkan secara massal oleh Yayasan Bentang Budaya.

Kali Mati akan membawa kehidupan masyarakat di lingkungan kumuh yang selalu dikonotasikan dengan kehidupan yang keras. Sarat dengan kesengsaraan, kekerasan dan tragedi sebagai akibat dari keterpinggiran mereka sebagai kaum marjinal yang ternistakan. Dunia yang hitam pekat dengan sedikit senyum penuh kegetiran bisa berakhir tragis untuk mereka yang tidak beruntung. Seperti nasib Mak Nil pada cerpen Rumah Bidadari, nasibnya ditentukan oleh empat lelaki atas nama kenikmatan. Pemerkosaan yang melahirkan Siti yang dianggap bidadari oleh Mak Nil, “Air panas buat Siti tidak boleh sembarangan, empat jerigen air bersih setiap hari dibeli. Digodok buat mandi, tak apa duit mak ledis habis. Bidadari, itulah cita-cita”. Ada keinginan setiap ibu pada seorang anak, harapannya Siti dilamar laki-laki yang punya mobil, rumah bagus, kaya agar bisa merawat mereka kelak. Disini Joni Ariadinata menampilkan pesan yang mudah diikuti pembacanya meskipun tidak sesederhana gaya bahasa yang dituturkan.

Mak Nil ini seorang pelacur tepi kali yang hidup di rumah beratapkan seng bekas penuh karat dengan dinding triplek, memiliki dua ruang yang satu untuk Siti sedangkan lainnya untuk dirinya bekerja. Tak pelak pekerjaan emaknya menjadi saksi perjalanan hidup Siti yang hanya dipisahkan sebuah sekat gedek tipis. Suara peluh berkejaran dengan nafas lelaki mengenalkan dirinya apa itu kenikmatan. Kenikmatan yang membuat dirinya berkata “Aku ingin jadi Pelacur” pada emaknya, seorang wanita penuh kasih yang melahirkannya. Emosi yang  membawa kita jumpalitan memahami keluguan seorang Siti dan kesetiaan Mak Nil sebagai ibu dalam rana kehidupan termarjinalkan. Siti hanyalah seorang gadis kecil yang memiliki cita- cita yang sama seperti ibunya.

Potret problem sosial menjadi tema sebagian besar antologi cerpen Kali Mati. Kehidupan yang jauh dari tindakan berbudaya ditambahkan penulis dengan tidak segan memasukkan kata-kata seperti berak, bajingan, djancuk, sundel, pokeh, dan termasuk sumpah serapah seperti Anjing! Babi! dan sebagainya. Menurutnya kehidupan mereka tidak mengenal tata bahasa, disini bahasa dirasa tidak mampu mewadahi lompatan-lompatan pikiran Joni Ariadinata. Baginya kata-kata seperti itulah yang membuatnya hidup menjadi bahasa di tengah-tengah kehidupan yang ditulisnya, mengajak pembaca juga ikut merasakan seperti apa kehidupan marjinal yang semerawut. Kesemerawutan yang disajikan dalam karakteristik ala Joni membuat antologi ini masuk dalam 100 Buku Sastra Indonesia Yang Patut Dibaca Sebelum Mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *