comments 9

Malam Jatuh Di Warung Mbah Cokro

Beberapa hari ini kerap bersenandung lirik Silampukau sembari memacu motor menembus keriuhan kota Surabaya, bertemu dengan kemacetan yang datang menyapa ruas-ruas jalan tanpa dosa. Mencoba memperlambat deru rutinitas yang terlampau cepat sejak bangun dari tidur, daiajak bergulat dengan pekatnya asap kendaraan serta suara klakson yang saling bersahutan. Jauh dari hal yang menyenangkan saat berkendara dimanapun. Pandangan sekeliling tidak lepas dari guratan wajah-wajah penuh lelah, gelisah dan tidak satupun menemukan wajah senyum diantaranya. Deru mesin kendaraan melalui knalpot tidak mempedulikan lagi wajah-wajah yang sebenarnya butuh keheningan berpikir untuk mencari jalan keluar. Raungan sirine mengusik dari kejauhan, sebuah mobil ambulan terjebak dalam lautan kendaraan nyaris tidak bergerak. Terlintas dalam pikiran untuk menebak bagaimana raut wajah si supir? kacau, marah atau takut? semoga saja tebakan saya salah.

Jam tangan menunjuk pukul 17.09 WIB, waktu yang memang dipastikan sepanjang Jalan Ahmad Yani adalah kemacetan dalam bentuknya padat merayap atau nyaris tidak bergerak. Perbedaan tipis yang membuat hidup terasa lamban hanya mencari celah jalan memacu motor tidak lebih dari 20 km/jam dan beberapa meter berhenti kemudian mencari celah jalan lagi. Ada alasan mencari sesempit apapun celah jalan merupakan kesempatan yang layak dipikirkan termasuk resiko yang bermuara dari kesabaran pengguna jalan lain. Kesabaran berujung pada kesadaran berkendara secara santun yang mulai hilang makna, rambu- rambu lalu lintas dianggap sebagai hiasan semata sedangkan spanduk tertib di jalan hanyalah omong kosong belaka. Yah begitu biadabnya jalanan Ahmad Yani kala lembayung mulai mewarnai langit.

Gelanggang ganas 5:15,
di Ahmad Yani yang beringas.
Sinar kuning merkuri: pendar celaka akhir hari.
Malam jatuh di Surabaya.

Itu adalah penggalan lirik yang saya senandungkan diambil dari lagu yang diberi judul Malam Jatuh di Surabaya. Dalam hati ingin rasanya mendamprat Kharis Junandharu dan Eki Trisnowengi betapa puitisnya mereka menggambarkan jalanan Ahmad Yani sore itu. Emosi manusia yang bergejolak di sepanjang jalan diubahnya menjadi hal yang sederhana seperti ajakan mari dinikmati sajalah, niscaya umpatan maupun keluh kesah tidak akan menguraikan kemacetan begitu saja. Sebuah cerita yang ingin disampaikan dalam irama folks sarat dengan kesederhanaan. Ndak perlu njelimet untuk mendengar musik mereka, petikan senar gitar akustik dengan bahasa lirik yang kuat membuat orang terpana saat mendengarkan pertama kali termasuk saya salah satunya. Konon musiknya banyak dipengaruhi oleh The Dubliners, band veteran dari Irlandia dan liriknya banyak terinspirasi dari kisah hidup sehari-hari kaum urban. Jadi tidak salah bila Silampukau mampu menangkap kegelisahan yang saya alami, sebuah problematika serta kegamangan hidup masyarakat kota.

15 menit berselang akhirnya bisa terbebas dari kebiadaban sebuah jalan, jalan yang diambil dari nama jendral korban kebiadaban sejarah. Seketika adzan maghrib berkumandang tidak menyurutkan lautan manusia dari negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Tuhan kalah di riuh jalan. Saya membelokkan laju motor untuk keluar dari kemacetan dengan resiko jarak tempuh yang bertambah begitu juga waktu. Ah terkadang pilihan memang harus dihadirkan, memilih jarak dekat terjebak macet atau bertambah jauh dengan jalanan yang lancar. Dengan pilihan kedua mengantarkan saya menuju arah Margorejo untuk singgah di sebuah tempat bernama Warung Mbah Cokro. Setidaknya menikmati secangkir kopi dan senja adalah perpaduan yang menenangkan sekaligus mengembalikan kesegaran yang hilang di jalan.

cokro

Menikmati secangkir kopi dalam kesendirian adalah kemewahan, merayakan kebebasan dari hiruk pikuk jalanan yang biadab. Nampak beberapa muda mudi bercengkerama dengan asyiknya sesekali menengok gawainya, hal yang lumrah di masa kini. Di depan meja kasir berbagai penganan tertata rapi mulai dari gorengan, bermacam jenis sate hingga nasi bungkus untuk dinikmati bersama langit temaram menuju gelap. Poster-poster film zaman dulu seperti Menggapai Matahari nya Rhoma Irama menempel sekat dinding dari anyaman bambu, pada bagian lain nampak dijadikan kanvas untuk seni mural. Perabotan kuno koleksi pribadi ditempatkan sedemikian rupa seperti kamera film, sepeda bahkan foto Presiden Soeharto yang nampak gagah dalam bingkai. Ah siapa yang bisa melupakan kemasyhuran beliau.

Warung Mbah Cokro, Indonesia Masih Ada sebuah konsep kesederhanaan yang ingin ditawarkan Mas Zurqoni seperti halnya Kharis dan Eki di dalam lagu-lagu Silampukau. Mencoba memadukan kesederhanaan dengan idealisme salah satu pelopor pergerakan di Indonesia HOS Tjokroaminoto. Mas Zur begitu saya memanggilnya, berusaha memfasilitasi komunitas-komunitas yang ada di Surabaya untuk berkumpul, berdiskusi dan melahirkan gagasan, baginya sebuah warung bisa menjadi tempat gagasan atau ide itu bermula dengan bebasnya. Seperti halnya HOS Tjokroaminoto yang membuka pintu rumahnya untuk siapapun juga, entah hanya sekedar datang berkunjung untuk menikmati secangkir kopi maupun berdiskusi perihal kebangsaan hingga larut malam. Siapa yang menduga beberapa tahun kemudian dari rumah tersebut lahir sosok seperti Semaoen, Alimin, Muso, Soekarno, Kartosuwiryo bahkan Tan Malaka. Jadi siapa juga yang bisa menduga dari obrolan di Warung Mbah Cokro nantinya lahir sosok yang mampu merubah wajah Indonesia, Wallahualam.

Kopi dalam cangkir tersisa separuh namun banyak cerita yang masih membutuhkan kalimat penutupnya. Suara sirine terdengar dari kejauhan kemudian hilang dengan cepatnya, ah semoga bukan dari mobil ambulan yang terjebak di jalanan Ahmad Yani tadi. Seketika terkirim doa untuk mereka yang masih terjebak dalam kemacetan karena malam telah jatuh di Surabaya, malam jatuh di Warung Mbah Cokro.

*Warung Mbah Cokro, Jalan Prapen 22 (ex. Lapangan Niac Mitra)

comments 3

Priangan Si Jelita

Ada banyak cara yang digunakan oleh puisi untuk merayu keterlibatan pembaca agar masuk ke dalam kehidupan. Salah satunya dengan menampilkan gambaran-gambaran kehidupan penulis, kehidupan yang mungkin tidak dikenal oleh pembacanya. Menampilkan dan menghadirkan dalam keberadaannya yang paling kongkret, bukan dalam bentuk abstraksi-abstraksi yang membuat kehidupan itu menjadi esensial dan kehilangan keberadaannya dari kehidupan-kehidupan lain yang ada sebelumnya. Sesuatu yang baru, yang asing yang memang selalu menantang untuk dimasuki maupun dialami seperti halnya kisah perpisahan. Pergi dari sesuatu yang dikasihi, pergi dari tanah kelahiran untuk merenungkan kembali sebuah hubungan dengan tempat kita dilahirkan. Perpisahan akan menyadarkan pada kehadiran sesuatu yang selama ini dilupakan, sering kali baru disadari saat segala sesuatu itu sudah tidak ada di sekitar kita.

Ramadhan Karta Hadimadja dilahirkan hingga menginjak usia dewasa di bumi Priangan lebih tepatnya di kota Bandung. Priangan adalah wilayah yang tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan sunda dengan luas mencakup Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Wilayah ini menawarkan keindahan alam hijau yang menghampar, lembah-lembah yang subur pada setiap lekuknya serta kecantikan gadis-gadis priangan nun jelita. Setiap manusia niscaya akan dibuat kagum dan cinta pada Priangan, kekaguman dan kecintaan yang baru dirasakan oleh Ramadhan KH saat dirinya pergi ke Eropa selama beberapa tahun. Jauh dari tanah kelahiran inilah yang akan membuat dirinya berserah pada kerinduan dan kelak akan ditulisnya dalam antologi puisi diberi judul Priangan si Jelita.

Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohon pina,
tembang menggema di dua kaki,
Barangrang – Tangkubanprahu

Jamrut di pucuk-pucuk
Jamrut di hati gadis menurun.

Priangan si Jelita memuat 21 puisi yang dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing diberi judul Tanah Kelahiran, Dendang Sayang, Pembakaran. Puisi-puisi ini lahir dari kerinduan Ramadhan KH akan alam priangan yang aman dan damai namun berbuntut kegelisahan, kegelisahan yang datang dari rasa cinta pada Priangan. Dirinya rela hadir ditengah gejolak yang sedang terjadi dengan pengorbanan yang tidak mudah dalam mengambil peran. Menurutnya inilah hubungan manusia dengan tempat dirinya hadir di muka bumi pertama kali. Mochtar Lubis sendiri dalam catatan kebudayaan majalah Horison pernah berujar bahwa sastra yang seharusnya adalah tentang manusia dan kehidupan manusia, perasaan dan pikirannya, kekecewaan dan harapannya, kemarahan dan kesedihannya, kebahagiaan dan kegetiran hidupnya bahkan keberanian maupun kepengecutannya. Ini berarti bahwa sastra juga harus menghadapi masyarakat, agama nasionalisme dan pula banyak lagi hal-hal lain. Dinilah saya melihat rasa tanggung jawab Ramadhan KH seperti yang dijelaskan Mochtar Lubis sebelumnya, penderitaan dan kesengsaraan pahit yang dialami tanah kelahirannya, menggugahkan rasa tanggung jawab sebagai sastrawan maupun makhluk Tuhan.

Dalam situasi seperti itu Ramadhan KH tidak bisa menerima kenyataan bahwa pemberontakan Darul Islam pimpinan SM Kartosoewirjo terjadi di sebagian besar wilayah Priangan. Teror yang mencekam telah membuat jauh dari rasa aman dan damai, diberlakukannya jam malam seakan menambah derita dari situasi politik sudah yang tidak menentu. Wajah-wajah penuh ketakutan, sunyi, kesendirian dalam balutan alam bumi priangan tahun 50an adalah potret yang ingin ditampilkan Ramadhan KH dalam bait puisi. Salah satunya “Dendang Sayang” pada sajak 1 diceritakannya bahwa kebebasan itu hanyalah milik unggas, saat manusia dirundung ketakutan mereka tidak bisa lepas dari bentuk kesepian yang merupakan waktu dalam menanti ajal.

Di Cikajang hanya burung,
bebas lepas terbang lari.
di bumi bayi turunnya,
besar di bawah mengungsi;
sepi di bumi priangan,
sepi menghadapi mati

Selain itu kita juga akan diajak untuk merasakan kehidupan yang sejuk, asri yang sekaligus bersiap untuk merenggang nyawa. Menegaskan bahwa Ramadhan KH bukan hanya memberikan citra yang manis dan mesra namun juga kepahitan serta kegetiran ikut menunggu di dalam bait puisinya. Seperti pada sajak 4 dari “Tanah Kelahiran”;

Berbelit membiru jalan
ke Gede dan Parangrango,
juga penyair dinanti tikaman orang

Saya melihat antologi puisi ini mengibaratkan gadis priangan yang sekujur tubuhnya dibalut dengan kawat berduri, masih tampak wajah ayu dengan senyum getir yang menunggu kita untuk membantunya terbebas dengan resiko masuk dalam pusaran ketakutan si gadis. Tentunya rasa sakit akan hadir diantara si gadis dan kita yang ingin membebaskannya sembari menikmati kecantikannya. Rasa sakit inilah yang mampu dihadirkan secara apik dari penulis, bagaimana sebuah konflik yang mengorbankan nyawa orang tak berdosa hanya karena perkara kekuasaan yang mengatas namakan Negara Islam Indonesia. Antologi puisi ini akhirnya diterbitkan pada tahun 1956 saat situasi teror itu masih berlangsung namun berakhir pada tahun 1962 saat SM Kartosoewirdjo menyerahkan diri kepada militer dan dihukum mati pada tahun itu juga. Nasib Priangan Si Jelita sendiri menjadi sebuah masterpice dari Ramadhan KH untuk masyarakat sastra Indonesia karena setelahnya tidak ada antologi puisi yang diterbitkan lagi. Dirinya kemudian lebih banyak menulis novel maupun biografi hingga masyarakat mulai mengenalnya saat menulis biografi orang kuat di Indonesia yang disegani di Asia Tenggara, Presiden Soeharto. Sosok presiden yang sarat dengan kontroversi terkait dengan pencekalan hingga pembredelan karya sastra penting yang dimiliki Indonesia.

comment 0

Kali Mati

Sastra tidak memiliki batasan atau tata bahasa yang baku untuk dimengerti, termasuk di dalamnya hal-hal mustahil hingga tidak mungkin terjadi dibuat dengan mudahnya dalam cipta karya. Permainan imajinasi yang penjelajahannya tidak dapat terikat apapun hingga membuka peluang baginya untuk menerobos ruang dan waktu, berbagai hal yang bersifat mungkin dapat dituangkannya bercampur tidak beraturan atau serempak secara tumpang tindih. Begitulah sastra yang memang tidak memiliki rumus paten, selalu saja ada yang khas dan unik bahkan nyeleneh. Dengan begitu berhasil menciptakan kekhasan individual, meskipun ciri dan sifat-sifatnya mungkin berlaku universal terkait dengan konteks yang meruang dan mewaktu.

Saya menahbiskan Joni Ariadinata adalah salah satunya, menjadi sumber dari keserbamungkinan atau kemustahilan itu di antologi cerpen “Kali Mati” yang memuat 15 cerpen. Diterbitkan pada tahun 1999 yang menawarkan kemungkinan baru segi eksplorasi bahasa, penjelajahan tema dan keberanian bereksprimentasi. Sejak tamat SMA dirinya sudah mengadu nasib ke kota pergi dari tempat kelahirannya Majalengka, bekerja secara serabutan mulai dari kuli bangunan hingga pengamen jalanan dilakoninya sebelum jadi penulis. Mungkin inilah kehidupan pinggiran yang menjadi inspirasi antologi Kali Mati kelak, lengkap dengan dialog-dialog yang menabrak batasan bahasa dan sastra yang diajarkan oleh guru-guru saat di sekolah.

Era kepenulisannya sendiri berawal dari perkenalan dengan seorang kawan penulis yang mendorongnya untuk belajar secara otodidak. Perjuangan mungkin tidak selalu berbuah manis pada akhir, namun pengorbanannya mengirim hampir empat ratusan karya tulisnya ke berbagai media akhirnya dimuat pertama kali di harian Surabaya Post pada tahun 1993. Setahun berikutnya dirinya meraih penghargaan cerpenis terbaik pilihan kompas dan mulai saat itulah namanya mulai dikenal dalam sastra Indonesia.

Sebagai orang yang belajar menulis secara otodidak Joni Ariadinata dikenal sebagai penulis yang bereksprimental untuk mencari bentuk kepenulisannya sendiri. Menurutnya bahasa sebagai sarana ekspresi ternyata tidak mampu mengungkapkan keliaran imajinasinya dalam “Kali Mati”. Tata bahasa semrawut, kosa kata yang tidak baku mengajak pembacanya ikut diguncang kesana kemari ibarat sauh yang menerjang ombak. Dengan kepiawaiannya seperti itu mengingatkan pada pencarian hakikat ketuhanan Sutardji Calzoum Bachri di O Amuk Kapak, menimbulkan gelak sekaligus keheranan hingga harus mengernyitkan dahi untuk memaknainya. Beberapa kritikus yang menganggap puisi-puisi Sutardji ini hanyalah kumpulan kata-kata tak bermakna yang dirasa tidak biasa dan keluar dari kelaziman penulisan puisi Indonesia. Membawa kita ke masa penolakan Sutan Takdir Alisjahbana atas puisi Chairil Anwar yang tidak lama kemudian timbul pemberontakan kaum muda atau bisa dikatakan revolusi sastra Indonesia.

Ketidaklaziman yang menjadikan Sutardji memiliki orisinalitas, kekhasan yang juga saya temukan pada diri Joni Ardianata pada antologi cerpen Kali Mati. Antologi cerpen yang mungkin secara kurang ajar dalam memperlakukan bahasa. Gaya bahasa yang selama ini kita kenal dalam buku-buku pelajaran ikut dibuat kocar kacir dan ngawur bahkan aneh. Dengan berani dirinya mereduksi bahasa, menampakkan citra puisi dalam narasi-narasinya. Entah apakah ini yang dimaksud penulis kelahiran Majalengka untuk membawa cerita pendek Indonesia ke tingkatan baru dengan lebih memperlihatkan karakteristiknya. Seolah menunjukkan juga bahwa inilah Joni Ariadinata dan ini antologi cerpen pertamanya yang diterbitkan secara massal oleh Yayasan Bentang Budaya.

Kali Mati akan membawa kehidupan masyarakat di lingkungan kumuh yang selalu dikonotasikan dengan kehidupan yang keras. Sarat dengan kesengsaraan, kekerasan dan tragedi sebagai akibat dari keterpinggiran mereka sebagai kaum marjinal yang ternistakan. Dunia yang hitam pekat dengan sedikit senyum penuh kegetiran bisa berakhir tragis untuk mereka yang tidak beruntung. Seperti nasib Mak Nil pada cerpen Rumah Bidadari, nasibnya ditentukan oleh empat lelaki atas nama kenikmatan. Pemerkosaan yang melahirkan Siti yang dianggap bidadari oleh Mak Nil, “Air panas buat Siti tidak boleh sembarangan, empat jerigen air bersih setiap hari dibeli. Digodok buat mandi, tak apa duit mak ledis habis. Bidadari, itulah cita-cita”. Ada keinginan setiap ibu pada seorang anak, harapannya Siti dilamar laki-laki yang punya mobil, rumah bagus, kaya agar bisa merawat mereka kelak. Disini Joni Ariadinata menampilkan pesan yang mudah diikuti pembacanya meskipun tidak sesederhana gaya bahasa yang dituturkan.

Mak Nil ini seorang pelacur tepi kali yang hidup di rumah beratapkan seng bekas penuh karat dengan dinding triplek, memiliki dua ruang yang satu untuk Siti sedangkan lainnya untuk dirinya bekerja. Tak pelak pekerjaan emaknya menjadi saksi perjalanan hidup Siti yang hanya dipisahkan sebuah sekat gedek tipis. Suara peluh berkejaran dengan nafas lelaki mengenalkan dirinya apa itu kenikmatan. Kenikmatan yang membuat dirinya berkata “Aku ingin jadi Pelacur” pada emaknya, seorang wanita penuh kasih yang melahirkannya. Emosi yang  membawa kita jumpalitan memahami keluguan seorang Siti dan kesetiaan Mak Nil sebagai ibu dalam rana kehidupan termarjinalkan. Siti hanyalah seorang gadis kecil yang memiliki cita- cita yang sama seperti ibunya.

Potret problem sosial menjadi tema sebagian besar antologi cerpen Kali Mati. Kehidupan yang jauh dari tindakan berbudaya ditambahkan penulis dengan tidak segan memasukkan kata-kata seperti berak, bajingan, djancuk, sundel, pokeh, dan termasuk sumpah serapah seperti Anjing! Babi! dan sebagainya. Menurutnya kehidupan mereka tidak mengenal tata bahasa, disini bahasa dirasa tidak mampu mewadahi lompatan-lompatan pikiran Joni Ariadinata. Baginya kata-kata seperti itulah yang membuatnya hidup menjadi bahasa di tengah-tengah kehidupan yang ditulisnya, mengajak pembaca juga ikut merasakan seperti apa kehidupan marjinal yang semerawut. Kesemerawutan yang disajikan dalam karakteristik ala Joni membuat antologi ini masuk dalam 100 Buku Sastra Indonesia Yang Patut Dibaca Sebelum Mati.